Selasa, 01 April 2008

KRETIFITAS DIRI

Kreatif yuuuuu...

Mengisi hari libur kuliah, setiap hari sabtu, saya membantu menggantikan ayah saya mengajar di sebuah Madrasah Tsanawiyah Swasta yang dirintis oleh tokoh masyarakat di tempat saya tinggal, termasuk ayah saya. Dengan kondisi fisik bangunan yang jauh dari standar nasional. Tetapi proses belajar mengajar harus tetap berlangsung, saya mengajar bidang studi agama tepatnya Aqidah Akhlak kelas 3. Ghirah atau kemauan anak untuk belajar sangat rendah, seorang gurupun tidak bisa memaksa karena fasilitasnya yang kurang memadai, sehingga muridnya juga pasif.

Dalam bidang studi saya materi yang diajarkan tidaklah terlalu berat, karena menyangkut moral dan pengetahuan agama yang umum, hal tersebut tidak terlalu sulit untuk disampaikan, asalkan ahlak anak itu baik, mudah bagi saya memberikan nilai 8, tetapi saya merasa mereka layak mendapatkan lebih dan sebagai guru saya ingin melihat semangat belajar mereka yang tinggi. Upaya saya menyiasati kondisi ini adalah dengan mengajarkan materi tidak hanya di kelas tetapi diluar kelas, seperti ada bab yang membahas tentang “Akhlak Terpuji Terhadap Lingkungan Flora dan Fauna”, saya ajak mereka belajar di taman dekat sekolah, sehingga suasananyapun bisa lebih kondusif untuk memahami materi. Dan pada setiap hari minggu ada pelajaran tambahan yaitu membaca al-qur’an dengan menggunakan nada Qira’at (Tilawatil Qur’an) ayat yang dipelajari pun sesuai dengan materi pelajaran pada hari sabtu, dengan demikian suasana belajar lebih menarik. Itu adalah salah satu upaya kreatif saya yang memadukan antara kemampuan saya mengaji dan kewajiban saya sebagai seorang guru.

Selasa, 18 Maret 2008

Keadaan Khas Masa Remaja

1. Sebagai peralihan dari masa anak menuju ke masa dewasa masa remaja merupakan masa yang penuh dengan kesulitan dan gejola, baik bagi remaja sendiri maupun bagi orang tuanya. Seringkali karena ketidaktahuan dari orang tua mengenai keadaan masa remaja tersebut ternyata mampu menimbulkan bentrokan dan kesalahpahaman antara remaja dengan orang tua yakni dalam keluarga atau ramaja dengan lingkungannya.
2. Hal tersebut di atas tentunya tidak membantu si remaja untuk melewati masa ini dengan wajar, sehingga berakibat terjadinya berbagai macam gangguan tingkah laku seperti penyalahgunaan zat, atau kenakalan remaja atau gangguan mental lainnya. Orang tua seringkali dibuat bingung atau tidak berdaya dalam menghadapi perkembangan anak remajanya dan ini menambah parahnya gangguan yang diderita oleh anak remajanya.
3. Untuk menghindari hal tersebut dan mampu menentukan sikap yang wajar dalam menghadapi anak remaja, kita sekalian diharapkan memahami perkembangan remajanya beserta ciri-ciri khas yang terdapat pada masa perkembangan tersebut. Dengan ini diharapkan bahwa kita (yang telah dewasa) agar memahami atas perubahan-perubahan yang terjadi pada diri anak dan remaja pada saat ia mamasuki masa remajanya.
4. Begitu pula dengan memahami dan membina anak/remaja agar menjadi individu yang sehat dalam segi kejiwaan serta mencegah bentuk kenakalan remaja perlu memahami proses tumbuh kembangnya dari anak sampai dewasa.

Beberapa Ciri Khas Masa Remaja adalah:

1. Perubahan peranan
Perubahan dari masa anak ke masa remaja membawa perubahan pada diri seorang individu. Kalau pada masa anak ia berperanan sebagai seorang individu yang bertingkah laku dan beraksi yang cenderung selalu bergantung dan dilingungi, maka pada masa remaja ia diharapkan untuk mampu berdiri sendiri dan ia pun berkeinginan mandiri.
Akan tetapi sebenarnya ia masih membutuhkan perlindungan dan tempat bergantung dari orang tuanya. Pertentangan antara keinginan untuk bersikap sebagai individu yang mampu berdiri sendiri dengan keinginan untuk tetap bergantung dan dilindungi, akan menimbulkan konflik pada diri remaja. Akibat konflik ini, dalam diri remaja timbul kegelisahan dan kecemasan yang akan mewarnai sikap dan tingkah lakunya. Ia menjadi mudah sekali tersinggung, marah, kecewa dan putus asa.
2. Daya fantasi yang berlebihan
Keterbatasan kemampuan yang ada pada diri remaja menyebabkan ia tidak selalu mampu untuk memenuhi berbagai macam dorongan kebutuhan dirinya.
3. Ikatan kelompok yang kuat
Ketidakmampuan remaja dalam menyalurkan segala keinginan dirinya menyebabkan timbulnya dorongan yang kuat untuk berkelompok. Dalam kelompok, segala kekuatan dirinya seolah-olah dihimpun sehingga menjadi sesuatu kekuatan yang besar. Remaja akan merasa lebih aman dan terlindungi apabila ia berada di tengah-tengah kelompoknya. Oleh karena itu ia berusaha keras untuk dapat diakui oleh kelompoknya dengan cara menyamakan dirinya dengan segala sesuatu yang ada dalam kelompoknya. Rasa setia kawan terjalin dengan erat dan kadang-kadang menjurus ke arah tindak yang membabi buta.
4. Krisis identitas
Tujuan akhir dari suatu perkembangan remaja adalah terbentuknya identitas diri. Dengan terbentuknya identitas diri, seorang individu sudah dapat memberi jawaban terhadap pertanyaan: siapakah, apakah saya mampu dan dimanakah tempat saya berperan.
Ia telah dapat memahami dirinya sendiri, kemampuan dan kelamahan dirinya serta peranan dirinya dalam lingkungannya. Sebelum identitas diri terbentuk, pada umumnya akan terjadi suatu krisis identitas. Setiap remaja harus mampu melewati krisisnya dan menemukan jatidirinya.

sumberr: http//penabur1.or.id

Senin, 10 Maret 2008

Dinamika Perkembangan Remaja

Pertumbuhan dan perkembangan remaja tidak lepas dari pengaruh bawaan yang berkaitan dengan sifat-sifat atau karakteristik genetika yang diturubkan oleh orang tua, serta pengaruh lingkungan yang berkaitan dengan keluarga, sekolah, teman bermain atau lingkungan masyarakat umum.
Pemahaman tentang dinamika perkembangan remaja amat diperlukan bagi orang tua maupun pendidik yang banyak berhubungan dengan mereka. Kasus-kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, aborsi, tawuran, narkoba maupun kriminalitas yang melibatkan remaja menjadi berita yang marak di media-media masyarakat.
Berbagai macam problem tersebut dapat diantisipasi melalui pendekatan integral antara orang tua, pendidik, profesional serta masyarakat melalui program promosi kesehatan mental di keluarga, sekolah, tempat ibadah dan lingkungan masyarakat tempat berkiprah dan berkumpulnya remaja-remaja.